KEBAHAGIAAN HIDUP MENURUT ISLAM


28. (yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka manjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, Hanya dengan mengingati Allah-lah hati menjadi tenteram.

Kebahagiaan hidup menurut istilah Prof Dr. Yusuf al-Qardhawi disebut “Jannatu l-ahlam “, surga impian. Yang dimaksud adalah semua orang memimpikan memperoleh kebahagiaan hidup tanpa memandang status sosial atau tingkat pendidikan. Seorang raja yang berada di istana juga masih menginginkan kebahagiaan hidup, sebagaimana halnya buruh, pekerja kasar dan petani menginginkan kebahagiaan hidup. Orang-orang jenius, pakar ilmu dan juga orang yang tidak menikmati pendidikan pun juga menghendaki kebahagiaan hidup yang sama. Yang menjadi masalah dan perlu dikaji adalah dimana sesungguhnya letak kebahagiaan itu ? Semua orang mencari, tetapi sebagian besar sulit untuk menemukan kebahagiaan itu sendiri.
Terjadi dialog antara Fir’aun dengan istrinya dengan nada mengancam. “Saya akan mencelakakan dan menyengsarakan kamu “. Asiyah menjawab, “ Engkau tidak punya kekuasaan apapun untuk melaksanakan hal itu seperti halnya engkau tidak dapat berbuat apa-apa untuk membahagiakan saya”. Kata Fir’aun selanjutnya, “Apa betul kamu menganggap saya tidak bisa memberikan kebahagiaan dan kesengsaraan kepadamu ?”. Asiyah menjawab, “Betul”. Kalau menurutmu kebahagiaan seseorang terletak pada kecukupan belanja hidup, memang kamu bisa menghilangkan hal itu dari saya. Kalau kebahagiaan itu ditemukan pada perhiasan yang indah-indah, kamu mungkin bisa mengurangi atau bahkan mencabut perhiasan itu dari saya. Kalau kebahagiaan itu kamu pandang berupa gedung-gedung yang indah dengan peralatan yang serba mahal, mungkin juga semua itu bisa kamu lakukan. Akan tetapi, semua itu tidak menjadi penentu kebahagiaan”. Fir’aun diam seribu basa mendengar ucapan istrinya. Asiyah berkata: Dengan segala kekuasaan dan kekayaan yang ada di tanganmu, apakah kamu pernah merasakan kebahagiaan ? Sebaliknya, engkau selalu merasa gelisah dan curiga kepada orang lain”. Fir’aun dengan cepat menukasnya, lalu menurutmu di mana letak kebahagiaan itu ? Di sini ada jawaban yang sangat filosofis dari Asiyah, “Saya temukan kebahagiaan itu di dalam hatiku”. Dan hatiku bisa memperoleh kebahagiaan itu setelah ada iman bertempat di dalamnya.
Ungkapan-ungkapan tersebut memang terus dipertanyakan orang, dimana letak kebahagiaan itu berada?. Kenikmatan materi tidak bisa memberikan jaminan untuk mewujudkan kebahagiaan bagi orang-orang yang telah menikmati dan memilikinya. Survey yang dilakukan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) menyatakan bahwa sebetulnya warga negara yang pantas untuk menikmati kebahagiaan karena tercukupinya materi itu ada tiga negara. Pertama, warga negara Swedia karena hampir semua biaya kebutuhan sosial penduduknya dicukupi oleh negara. Di negara ini tidak ada orang yang tidak punya pendapatan, termasuk para penganggur, sebab mereka mendapat jaminan sosial dari negara. Tapi survey ini membuktikan, semakin banyak kenikmatan materi yang dinikmati justru kegelisahan hati penduduk Swedia bertambah besar. Dari fakta yang terkumpul, jumlah orang yang bunuh diri rata-rata pertahun meningkat. Padahal bunuh diri, stres berat, dan sakit jiwa merupakan indikator atau bukti-bukti adanya ketidakbahagiaan seseorang.
Negara kedua yang disurvey adalah Amerika serikat. Amerika dianggap negara yang paling kaya, tingkat kemakmuran penduduknya cukup tinggi, fasilitas hidup mulai dari yang maksiat sampai tidak maksiat tersedia di sana. Akan tetapi, tingkat kriminalitas tertinggi di dunia dipegang oleh Amerika. Jumlah perkosaan, pembunuhan, pencurian, dan lain-lain sampai saat ini masih belum ada yang melampaui Amerika. Ini menunjukkan bahwa kenikmatan materi tidak bisa dijadikan jaminan bagi warga negara untuk memperoleh kebahagiaan hidup.
Negara ketiga yang disurvey adalah Jepang. Negara ini pendapatan perkapitanya cukup tinggi. Karena itu jelas kenikmatan materi bisa dicapai penduduknya tercukupi dengan baik. Pada tahun 1995, pendapatan perkapita Jepang bila dibandingkan dengan Indonesia berkisar kira-kira 1:23. Begitu pun penduduk Indonesia sudah merasa makmur padahal hanya 1/23 nya dari kemakmuran Jepang. Namun, survey tersebut juga menunjukkan bahwa Jepang justru merupakan negara yang paling gelisah di dunia saat ini. Misalnya, jumlah penjualan minuman keras tiap tahun bertambah, demikian juga bunuh diri. Bunuh diri remaja Jepang tertinggi di dunia. Tingkat kriminalitas di Jepang mencapai 60% dilakukan oleh anak-anak di bawah umur 25 tahun. Fakta ini menunjukkan betapa tidak bahagianya kehidupan mereka.
Salah seorang jurnalis terkenal dari Inggris pernah melakukan penelitian di kota terbesar dunia, New York, disimpulkan bahwa kehidupan di New York pada dasarnya hanyalah bungkus indah dari segala macam penderitaan dan kesengsaraan manusia. Dengan kata lain kebahagiaan dan kesengsaraan yang dinikmati oleh penduduk di negara-negara maju itu sebenarnya kamuflase yang sejatinya menyimpan kesengsaraan dan penderitaan.
Kalau materi tidak mendatangkan kebahagiaan hidup, mungkin orang menganggap kebahagiaan itu terletak pada keluarga. Menurut mereka anak yang baik bisa memberikan kebahagiaan. Tetapi banyak orang yang memiliki anak justru sering ribut dan menimbulkan masalah –masalah baru. Mungkin pula orang mencari kebahagiaan dengan menggeluti berbagai ilmu pengetahuan. Tapi kenyataannya pengetahuan pun tidak memberi jaminan seseorang memperoleh kebahagiaan.
Uraian di atas menunjukkan bahwa kebahagiaan tidak terletak pada kenikmatan dan tercukupinya materi, banyaknya anak atau luasnya pengetahuan yang dicapai. Kembali pada konsep kebahagiaan yang diberikan oleh agama Islam, ternyata faktor dominan kebahagiaan tidak bisa ditemukan di luar diri, melainkan dari dalam diri. Faktor-faktor luar seperti kemakmuran, kekayaan, keluarga, kedudukan, pengetahuan adalah sebagai faktor penunjang kebahagiaan. Artinya, faktor penunjang akan dapat menyempurnakan kebahagiaan hidup apabila sudah ditemukan faktor dominatifnya. Dan faktor yang menentukan ini berada di dalam diri manusia.
Apa sebenarnya yang menjadi faktor dominatif kebahagiaan itu? Al-Quran maupun Sunnah telah memberikan jawaban bahwa faktor dominatif yang menyebabkab orang bisa memperoleh kebahagiaan adalah “sakinatul qalb”, ketenangan hati. Orang yang memiliki hati yang tenang, tentram, dan stabil berarti sudah mempunyai modal yang sangat besar untuk memperoleh kebahagiaan hidup. Jika modal ini ditunjang oleh kekayaan, keluarga, karier yang baik, kedudukan tinggi, kesehatan prima akan merupakan kesempurnaan kebahagiaan duniawi.
Dengan demikian, kebahagiaan hidup itu memiliki dua faktor. Pertama, faktor dominan yaitu berupa sakinatul qalb, ketengan atau ketentraman hati karena adanya iman dan kedekatan kepada Allah. Kedua, faktor penunjang seperti kekayaan, jabatan, kesehatan dan sebagainya, yang sifatnya berada di luar diri manusia. Faktor dominan itu mesti ada untuk timbulnya kebahagiaan. Tidak adanya faktor dominan menyebabkan kebahagiaan akan hilang. Akan tetapi, tidak adanya faktor penunjang belum tentu kebahagiaan seseorang hilang. Idealnya memang seseorang memiliki faktor dominan dan penunjang sekaligus sehingga kebahagiaan yang diperolehnya sempurna.
Terdapat kisah yang cukup menarik dari Abu Bakar, Abu Bakar adalah salah seorang yang diakui dan dihormati oleh Nabi, termasuk sahabat yang paling tenang jiwanya (sakinah). Sakinah bisa diterjemahkan secara kasar dengan satu “kehidupan ruhani yang stabil”. Pada waktu Abu Bakar diangkat sebagai khalifah – sebuah kedudukan yang begitu tinggi, puncak, terhormat di kalangan kaum muslimin saat itu-ternyata kedudukan itu sepertinya tidak mempengaruhi kebahagiaan hidupnya. Hal ini bisa dilihat dari dua hal. Pertama, ketika dilantik sebagai khalifah, dalam sumpah jabatannya dia mengucapkan, “Saya bukanlah orang yang paling baik di antara kalian, tetapi dengan adanya jabatan ini saya adalah orang yang paling berat memikul tanggung jawab dibandingkan dengan kalian semua”. Dia memandang kedudukan khalifah bukanlah hal yang menyenagkan, tetapi suatu amanah yang harus dipikul. Kedua, setelah dilantik sebagai khalifah dan menjadi orang yang pertama dalam komunitas Islam ternyata Abu Bakar masih bekerja setiap dengan berjualan di pasar. Melihat hal yang demikian Umar bin Khattab mengatakan bahwa orang yang sudah menjadi pejabat negara harus disediakan kebutuhan hidupnya sebagai kompensasi tugas-tugasnya melayani masyarakat. Karena jika tidak tugas-tugas kenegaraannya akan terbengkelai. Umar mengharap Abu Bakar tidak lagi tiap hari bekerja di pasar karena harus siap menerima persoalan yang menjadi kebutuhan umat. Abu Bakar menjawab, “ Umar, saya pergi ke pasar karena tugas ini merupakan fardhu ‘ain, kewajiban yang harus saya tunaikan. Saya wajib mencukupi kebutuhan hidup keluarga. Sementara menjadi khalifah mengurusi umat merupakan fardhu kifayah.
Contoh itu menunjukkan bahwa orang seperti Abu Bkar melihat kedudukan bukan merupakan hal yang mendatangkan kebahagiaan, melainkan sebaliknya menimbulkan persoalan baru. Hal ini berbeda dengan situasi sekarang dimana kedudukan merupakan sumber dari segala macam kebahagiaan dan bisa dimanfaatkan untuk kepentingan apa saja. Di negara-negara maju, orientasi memperoleh kedudukan barangkali berbeda dengan negara-negara sedang berkembang. Amerika Serikat misalnya, kandidat kepala negara umumnya memiliki kekayaan/modal dulu sebelum menjadi presiden. Tetapi di negara-negara sedang berkembang, biasanya jadi presiden dulu baru kaya.
Nabi Muhammad SAW diingatkan Allah SWT dalam sebuah ayat yang berbunyi:
فلا تعجبك أموالهم ولا أولادهم انمايريد الله ليعذ بهم  بها فى الحيواة الدنيا…(التوبة 55)
Janganlah kekayaan dan anak-anak (yang kelihatan tampan dan gagah) yang dimiliki oleh orang-orang Makkah itu sampai memukau hatimu. Allah menghendaki untuk menyiksa mereka (dengan dengan kekayaan dan keluarga) dalam kehidupan dunia” (al-Taubah: 55). Mengapa Nabi Muhammad tidak boleh terpukau dengan harta dan anak-anak yang dimiliki orang-orang Makkah? Karena harta kekayaan dan anak-anak itu tidak mesti memberikan kebahagiaan kepada mereka. Malah sebaliknya Allah menghendaki kekayaan dan kemuarga itu sebagai siksaan bagi mereka dalam kehidupan dunia. Jadi, ada harta dan anak-anak yang dilihat orang luar seakan-akan menjadi kebahagiaan, tetapi bagi yang memilikinya boleh jadi merupakan suatu siksaan. Dengan sendirinya harta dan keluarga demikian itu pada dirinya tidak terdapat apa yang disebut “sakinatul qalb”.
Dalam realitas kehidupan sehari-hari cukup banyak orang yang tersiksa karena harta kekayaannya, bahkan kadang-kadang hartanya menyibukkan dan tidak mendatangkan ketenangan.
Al-Quran membuat istilah bermacam-macam tentang kedudukan anak dalam kehidupan keluarga. Pertama, Allah memberikan suatu pernyataan bahwa anak dan harta boleh jadi akan menjadi godaan (fitnah) bagi orang yang memiliki. Firman Allah
واعلموا أنما أموالكم و أولادكم فتنة. (الآنفال 28)
Ketahuilah bahwa harta dan anak-anakmu merupakan suatu fitnah godaan” (Al-Anfal: 28) Di dalam beberapa kitab tafsir dinyatakan bahwa godaan yang paling besar dan menyita hampir sebagian besar waktu seseorang adalah harta dan anak-anak.
Allah juga mengingatkan dalam ayat yang lain
يايهاالذين امنوا لا تلهكم أموالكم ولا أولادكم عن ذ كرالله …
Wahai orang-orang yang beriman jangan sampai harta kekayaanmu dan anak-anakmu melupakan atau melengahkan kamu sehingga tidak mempunyai waktu untuk ingat kepada Tuhan” (al-Munafikun: 9). Karena anak dan harta potensial menjadi godaan yang melupakan seseorang pada tugas-tugas keagamaan.
Kedua, harta dan anak bisa menjadi musuh bagi yang memiliki. Kalau ayat di atas anak dan harta menjadi godaan, pada ayat berikut Allah memperingatkan lebih gawat lagi pada manusia,
… ان من أزواجكم وأولادكم عدوا لكم فا حذروهم …(التغابن 14)
Sebagian dari isterimu (suamimu) dan anak-anakmu akan menjadi musuh bagi dirimu sendiri. Oleh sebab itu, hati-hatilah menghadapi isteri (suami) dan anak”. (at-Taghobun :14). Ayat ini dengan tegas memperingatkan manusia bahwa jika salah dalam mendidik anak dan keliru menghadapi isteri/suami maka keduanya tidak menambah kebahagiaan, malah akan menjadi musuh dalam rumah tangga sendiri.
Meskipun demikian, al-Quran sendiri memberitahukan bahwa di samping menjadi penggoda dan musuh, harta dan anak tetap menjadi hiasan hidup yang amat didambakan oleh setiap orang. Allah berfirman,
المال والبنون زينة الحيواة الدنيا… (الكهف 46)
“Harta dan anak itu merupakan hiasan kehidupan dunia” (al-Kahfi :46). Dalam ayat lain, anak anak dipandang sebagai qurrotu a’yun (penyenang hati).
ربنا هب لنا من أزواجنا وذرياتنا قرة أعين.
Kembali pada konsep awal bahwa kebahagiaan berasal dari dalam yakni “sakinatul qalb”, dan yang berasal dari dari luar hanya penunjang, ada satu ungkapan dari ulama-ulama yang menyatakan, la sa’adata bi la sakinnah, “tidak ada kebahagiaan tanpa ketenangan”. Wallahu a’lamu

Tidak ada komentar:

Posting Komentar